Ingat Yogyakarta, langsung terbayang Malioboro, Gudeg, Keraton, Borobudur. Terakhir kali berkunjung ke kota yang satu ini, pada saat kuliah, sekitar tahun 2002. Waktu itu dalam rangka kunjungan sebuah klub mahasiswa arsitektur gabungan ITB dan Unpar bernama Teras dan acaranya pun lebih banyak nilai akademisnya ketimbang jalan-jalan semata, seperti seminar di UII, kunjungan ke Kali Code dan rumah salah satu Arsitek Yogyakarta.
Oleh karena itu, ide untuk berlibur ke Yogyakarta cukup menarik, yah 8 taun bukan waktu yg singkat. Let's see Yogyakarta nowadays.
Perjalanan ke Yogyakarta memakai kereta api, setelah sekian lama cuti dari kendaraan jenis ini. Jadi selalu teringat masa-masa pertama kerja di Jakarta. Stasiun dan kereta api selalu menjadi sahabat terbaik di setiap weekend. Namun, perjalanan diatas tiga jam dengan kereta api terakhir kali adalah dengan KA Pasundan dari Bali dan semoga menjadi saat terakhir memakai KA kelas ekonomi. Bayangan tentang kursi yang tidak nyaman, pedagang asongan dan pengamen yang tiada habisnya, panas dan sesak gerbong, serta lampu yg tidak menyala dan anak-anak kecoa di sela2 dinding KA. Cukup hanya satu kali dan pada saat itu bersyukur bahwa terdapat obat bernama antimo.
Day 1
Yogyakarta panas! Tentu saja tidak sepanas Tangerang yang gersang. Ternyata hotel tempat kami menginap dekat sekali letaknya dengan Stasiun Tugu istilahnya sih hanya selemrparan batu, tapi entah kenapa untuk menuju kesana kita memakai taksi? Sepertinya memberikan supir taksi uang rokok sebesar 20rb. :)
Hotel tempat kami menginap adalah Inna Garuda. Letaknya strategis, strategis, dan strategis..karena letaknya tepat di Jl. Malioboro..hehe...dan cukup nyaman dan bagus. (Ya, iyalah dengan kamar seharga 900rb/malam). Setelah check in, menaruh barang-barang, dan sholat, kami langsung mencari makan siang..eh..sore, karena pada saat itu sudah pukul 4 sore. Berdasarkan Wiki, gudeg yang cukup terkenal salah satunya Gudeg Wijilan, yang letaknya dekat keraton dan berjalanlah kami kesana.
Malioboro sudah tumplek dengan berbagai macam manusia dan sebagian besar adalah turis domestik. Terlihat dengan gaya berpakaian, kacamata hitam yang dipakai, dan kamera yang dibawa. Selain itu, jalan juga sulit, karena sepanjang jalan penuh dengan pedagang kaki lima, parkir motor, tempat mengetem becak dan andong, tapi disitulah seninya Jl. Malioboro, apalah artinya Jl. Malioboro tanpa keberadaan mereka semua.
Gudeg Wijilan yang terletak dekat Keraton tersebut, ternyata cukup jauh juga dari hotel Inna Garuda (kurang lebih 2-3 KM). Begitu sampai, walaupun tidak begitu suka gudeg, tapi makanan di piring habis hanya bersisa tulang ayam saja. Ternyata, setelah sibuk post gambar ke BBM (Blackberry Messenger) Grup Lengkong, respon yang didapat Gudeg Wijilan adalah Gudeg mahal hehehe. Ya iya sih, untuk satu porsi gudeg lengkap dengan ayam, tahu,dan telur sekitar 30rb. Mahal untuk ukuran kota Yogyakarta, tapi apa daya memang kelaparan.
Jalan kaki kembali ke hotel agak santai dan sambil mengambil gambar, kebetulan di alun-alunnya sedang dipakai oleh taman ria keliling. Suasananya ramai dan semrawut. Di ujung Jl. Malioboro banyak orang yang duduk-duduk, sambil menikmati suasana sore dan sepanjang jalan orang-orang yang hendak berjualan lesehan sedang menyiapkan lapaknya. Cukup menarik, suasana yang tidak bisa didapatkan di kota Bandung.
Makan hari kami mendapatkan undangan makan malam di sebuah resto seafood BANDARA dekat bandara, spesialisasinya adalah sop hiu dan sate hiu. Namun, kebetulan pada saat itu sate hiunya sudah habis, hanya tinggal sop hiu, yaaa...rasanya not too special, seperti ikan pada umumnya hanya teksturnya lebih liat. Makanan di resto ini tidak terlalu cocok di lidah, apalagi pada saat mencicipi kangkung cah-nya, rasanya..KECAP.
Day 2
Kalau ke Yogyakarta belum ke Borobudur, belum ke Yogyakarta namanya. Itu sih yang dibilang orang-orang, terakhir kali ke Borobudur adalah pada saat road trip keluarga dari Bali ketika kelas 3 SMP, sudah berpuluh tahun jangka waktunya.
Bisa dibilang hari ini adalah hari berwisata yang paling ambisius yang pernah dibayangkan. Kraton Yogyakarta - Galeri Saptohudoyo - Museum Affandi - Candi Prambanan - Museum Ullen Sentalu - Candi Borodudur. Very tight schedule, tapi Alhamdulillah hampir semuanya terdatangi, kecuali museum Ullen Sentalu digantikan oleh resto Beukeunhoff.
Yang paling berkesan diantara semuanya adalah Candi Prambanan dan resto Beukeunhoff. Candi Prambanan karena panasnya yang bikin meleleh dan Beukeunhoff, resto dengan suasana cozy dan makanannya yang paling enak yang pernah dimakan (apa karena kelaparan?)
Malam harinya saya hunting batik, tapi pada saat sampai di Mirota Batik, satpam sudah siap-siap menutup pintu dan hanya mendapatkan dua kemeja batik pria dari Batik Ningrat, tapi ternyata jalan sampai alun-alun Yogyakarta tidak merugikan, karena saat itu terdapat acara kembang api. Beautiful dan ini saat kedua kali saya melihat kembang api dari dekat.
Day 3
Hunting batik dan juga hunting oleh-oleh Bakpia. Karena waktu yang singkat, kebetulan kereta akan berangkat pukul 12 siang, maka hanya sempat ke Mirota Batik (yang berjejalan penuh sesak dengan orang-orang) dan Bakpia Srikandi yang direkomendasi Lena dari Fashionesedaily di Jl. KS Tubun.
Fiuuhh...3 Days and 2 Night (just like name of Korean Variety Show) in Yogyakarta, but it's exciting. I want to go again to Yogyakarta, to Beukeunhoff and Mirota Batik...
***
Places:
Sentra Gudeg Wijilan
Jl. Wijilan
Yogyakarta
Bandara Seafood and Restaurant
Jl. KH. Muhdi. Nayan, Maguwoharjo
Saptohudoyo Art Gallery
Jl. Solo KM. 9
Meguwoharjo - Sleman, Yogyakarta
Tel. +62 274 562443
Museum Affandi
Jl. Laksda Adi Sucipto 167 Yogyakarta - Indonesia
Telp./Fax : +(62)-274-562593
Ullen Sentalu Beukeunhoff
Jl Boyong Kaliurang, Sleman Yogyakarta
Tel. +62 274 895161
Pia Srikandi Sri Mulia
Jl. KS Tubun 40, Patuk
Yogyakarta
Tel. +62 274 519443


Tidak ada komentar:
Posting Komentar