There's always first time for everything.... First time visiting an Obgyn and now first operation....
Senin yang lalu adalah saat yang cukup menegangkan, ketika dokter kandungan bilang harus menjalani operasi laparascopy. Awalnya bermula dari kunjungan pertama ke dokter kandungan, setelah pemeriksaan dalam dan USG vagina, didiagnosis mengalami infeksi dan terdapat polyp di dalam rahim. Infeksi dan polyp tersebut ternyata dapat menjadi faktor mengapa tidak dapat hamil. Oleh karena itu, selama dua minggu diterapi untuk infeksi tersebut, kemudian untuk polyp tersebut harus dikuret.
Menurut Advanced Fertility Center of Chicago, a polyp is an overgrowth of tissue in the lining (endometrium) of the uterus. The concept is similar to that of a skin tag - basically normal tissue, but growing in an abnormal formation. Many polyps are very small (a few millimeters in diameter) and do not represent a compromise to reproductive capabilities. However, large polyps - or multiple polyps - can interfere with reproduction by causing infertility, or by increasing risks for miscarriage.
Setelah infeksi tersebut dinyatakan sembuh, maka selanjutnya adalah operasi untuk menghilangkan polyp tersebut. Operasi tersebut akan dilakukan kurang lebih 1-2 hari setelah selesai menstruasi dan yang cukup mengagetkan bahwa selain dikuret akan juga dilakukan Laparascopy Diagnostic.
Seperti terdapat dalam brosur RS Hermina Bandung, Laparascopy adalah suatu proses pemeriksaan dengan menggunaka alat khusus (endoscopy) melalui dinding perut, dimana sayatan luka operasi tersebut dibuat sangat kecil ( sekitar 5-10mm). Satu lubang pada pusar digunakan untuk memasukkan sebuah alat yang dilengkapi kamera untuk memindahkan gambar dalam rongga perut ke layar monitor, sementara dua lubang yang lain untuk peralatan bedah.
Kelebihan dari teknik bedah Laparascopy ini adalah rasa nyeri yang minimal karena luka operasi kecil dan tidak melukai organ lain dalam tubuh, pemulihan dan penyembuhan lebih cepat, dan luka yang kecil mengakibatkan luka bekas operasi hampir tidak terlihat.
Ok..that was scarrier than I thought, but somehow I have to do it if I want to have a baby.
Sebelum dilakukan operasi hari Seninnya, hari Jum'at pada saat mendaftar untuk operasi harus dilakukan test darah dan juga konsultasi pada anestesi. *It's getting scarrier..* Alhamdulillah semuanya lancar, hanya saja disarankan jaga kesehatan, jangan sampai terkena flu, dan istirahat yang banyak sebelum operasi.
Ternyata karena baru kali ini melakukan operasi dan berhubungan dengan administrasi rumah sakit, jadi pengalaman baru juga. Pada saat mendaftar langsung diberitahu oleh petugas administrasi tarif operasi berdasarkan jenis kamar, karena ODC (One Day Care) maka memakai tarif kelas III, yang tertera adalah sekitar Rp. 8.000.000.- *Glkk...that's expensive* dan apabila operasi meningkat menjadi operatif tarif akan naik sekitar 10 - 50 %, dengan DP pada saat sebelum operasi 75%. Yupp..bersyukurlah para ibu-ibu yang sukses hamil tanpa mengalami hal seperti ini.
Pada hari Senin, operasi dijadwalkan pada pukul 12.00 dan untuk persiapan sebelumnya diharuskan datang pukul 10.00. Begitu masuk ruang persiapan/pemulihan diharuskan mengganti dengan pakaian rumah sakit, berupa pakaian daster seperti di film-film hanya saja tali-talinya di bagian sisi badan. Setelah itu disuruh berbaring dan langsung diinfus, serta dicek tekanan darah dan suhu tubuhnya dengan termometer. Seperti biasanya tekanan darahnya rendah, sekitar 80/100 dengan suhu tubuh 36 derajat Celcius *Glek* bukannya yang normal 37.5 C ya?
Setelah itu menunggu waktu operasi. Baru pertama kali diinfus, rasanya sakit sedikit, terutama pada saat jarum ditusukan ke kulit, perawatnya agak sulit karena venanya tipis. Aneh yahh, berada di RS, diinfus, padahal tidak merasa sakit sama sekali. O...ya, ruang persiapan operasi di RS Hermina ini ribut sekali, suster-suster bolak-balik dan mengobrol dengan suara kencang, kalau saya 'sakit' mungkin bisa tambah stress dibuatnya. Sebelum dioperasi, dokter anestesinya datang berkunjung, baik sekali. Kabarnya beliau, teman dekat mertua pada saat kuliah, serta teman dekat uwaknya suami karena kebetulan memang satu profesi.
Ternyata...sebelum dioperasi terdapat prosedur 'bikini wax' hanya saja tidak seperti ala Narsih yang pakai teknik waxing dan threading, sehingga benar-benar 'bersih' dan pada saat tumbuh tidak gatal. Susternya memakai alat cukur biasa. Yaaa kalau tahu begini ke Narsih dulu deh. Seharusnya RS bekerjasama dengan salon waxing, tidak apa-apa ada charge berlebih tapi setidaknya tidak perlu menderita karena gatal pada saat bulu-bulu tumbuh kembali. So, noted kalau operasi yang berhubungan dengan vagina, termasuk akan melahirkan please do bikini wax first. Selain itu, bagian udel dibersihkan dengan alkohol dan juga diberi betadine, berarti alat apapun itu akan dimasukkan melalui lubang di udel. Pertama saya kira betadine dipakai pada saat cukur, membayangkan akan berdarah-darah saja sudah mengerikan.
Memasuki ruang operasi pukul 12.00 teng, pindah ke tempat tidur yang bisa didorong -tidak tahu namanya-, masih merasa aneh karena merasa sehat tapi harus didorong-dorong ke ruang operasi. Mengapa tidak jalan saja ya? Aneh kan?
Ruang operasi seperti layaknya di film-film membuat nyali ciut, dengan alat-alat kedokteran yang aneh. Sebuah meja operasi di tengah-tengah, di bagian atas terdapat dua lampu besar, di sisinya ada monitor komputer dan TV, sepertinya buat melihat hasil kamera yang akan dimasukkan ke dalam tubuh, selanjutnya sebaiknya tidak usah melihat alat-alat operasinya saja. Setelah berbaring di meja operasi, pertama kali posisi diatur agar kaki dapat mengangkang tepat pada tempatnya. *???* Well, posisi yang sulit, sungguh bersyukur dibius total karena dapat menghindari hal yang memalukan (lagi).
Setelah itu, tangan direntangkan dan mulai memakai alat-alat untuk mendeteksi bagian vital tubuh, seperti denyut nadi, tekanan darah dan sebagainya. Hal yang menyebalkan dan tentu saja menegangkan adalah menunggu waktu operasi tiba, berharap cepat-cepat saja dibius total dan semuanya cepat berakhir. Beberapa lama kemudian dokter-dokter berdatangan, kemudian anestesi langsung menyuntikkan bius lewat jarum infus, rasanya sakit sekali seperti ada logam berat masuk ke dalam darah, setelah suntikan kedua -yang juga sakit- langsung tidak sadarkan diri.
Sadar kembali, setelah dibangunkan oleh suster dan terasa berada dalam tempat tidur dorong yang tadi, hanya saja mata rasanya beraaaaat sekali, susah untuk dibuka. Pada saat itu, entah mengapa merasa panik dan berharap mamah ada di samping *hiwks* tapi setelah itu merasa aman dan nyaman setelah tangan dipegang oleh Aswin.
Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar dan pasca operasi tidak ada keluhan yang berarti, mungkin sakit sedikit tapi selebihnya sih tidak ada apa-apa. Hasil dari operasi dan rekaman pada saat operasi, menurut dokter terdapat penyumbatan pada bagian saluran antara uterus dengan saluran telur. Namun, Alhamdulillah pada saat operasi sumbatan tersebut berhasil dibuka. Mudah-mudahan setelah ini dapat cepat hamil, karena jika belum juga hamil 2 bulan kemudian harus menjalani Hidrotubasi.
Mudah-mudahan...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar